Setelah 40 Hari Menjadi Santri, Sambangan Pertama Akhirnya Tiba: Momen Hangat Santri Bersama Keluarga

KUDUS, 9 Agustus 2026 — Ahad, 9 Agustus 2026, menjadi hari yang dinantikan para santri SMP Tahfidh Ma’had Yasin. Setelah menjalani rutinitas belajar dan kehidupan pesantren, para santri kembali mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama keluarga dalam kegiatan sambangan santri bulan Agustus 2026.

Sambangan kali ini terasa lebih istimewa bagi santri baru karena menjadi sambangan pertama setelah kurang lebih 40 hari menjalani kehidupan di lingkungan pesantren. Sementara bagi santri lama, sambangan menjadi kesempatan untuk kembali melepas kerinduan dan berbagi cerita bersama keluarga.

Suasana hangat tampak sejak pagi. Para orang tua/wali mulai berdatangan untuk menjemput putra-putri mereka. Senyum dan antusiasme santri terlihat ketika bertemu kembali dengan keluarga setelah menjalani aktivitas di pesantren.

Penjemputan Dimulai Pukul 07.00 WIB

Untuk memberikan kesempatan kepada santri dan keluarga menikmati waktu bersama secara optimal, proses penjemputan santri dilaksanakan mulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.

Orang tua/wali dapat menjemput putra-putrinya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Setelah proses penjemputan, santri mendapatkan waktu bersama keluarga sebelum kembali ke lingkungan pondok.

Pada sambangan kali ini, santri diperbolehkan diajak keluar dari lingkungan pondok bersama orang tua/wali selama masa sambangan. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan keluarga untuk menghabiskan waktu bersama, makan bersama, berkunjung ke tempat tertentu, atau sekadar menikmati kebersamaan setelah sekian waktu tidak bertemu.

Bagi santri baru, kesempatan tersebut tentu menjadi pengalaman yang sangat berarti. Setelah sekitar 40 hari beradaptasi dengan kehidupan pesantren, mereka dapat kembali merasakan suasana bersama keluarga secara lebih leluasa.

Santri Baru, 40 Hari Penuh Pembelajaran

Bagi santri baru, 40 hari pertama di pesantren merupakan fase penting dalam proses adaptasi. Mereka belajar mengenal lingkungan baru, mengikuti rutinitas, mengatur waktu, menjaga kedisiplinan, serta mulai membangun kemandirian.

Tidak semua proses berjalan mudah. Rasa rindu kepada orang tua dan keluarga menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Namun, perlahan para santri mulai terbiasa dengan kehidupan pesantren dan belajar menghadapi berbagai pengalaman baru.

Karena itu, sambangan pertama menjadi momen yang sangat dinantikan. Pertemuan dengan keluarga menjadi kesempatan untuk melepas kerinduan sekaligus mendapatkan energi dan semangat baru.

Santri Lama Turut Menikmati Sambangan

Tidak hanya santri baru, santri lama juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Bagi santri lama, sambangan menjadi bagian dari rutinitas kehidupan pesantren yang memberikan ruang untuk menjaga kedekatan dengan keluarga. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi santri untuk berbagi cerita mengenai perkembangan pembelajaran, hafalan Al-Qur’an, kegiatan pesantren, serta pengalaman sehari-hari.

Sambangan menjadi pengingat bahwa meskipun santri belajar mandiri di pesantren, dukungan dan kasih sayang keluarga tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.

Kembali ke Pondok Pukul 15.00–17.00 WIB

Setelah menghabiskan waktu bersama keluarga, santri kembali ke lingkungan pondok sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Pengembalian santri dilaksanakan mulai pukul 15.00 hingga 17.00 WIB.

Jadwal tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh santri kembali ke lingkungan pondok dengan tertib sehingga dapat melanjutkan kembali aktivitas dan rutinitas pesantren.

Momen ketika santri kembali ke pondok juga menjadi bagian dari pembelajaran tentang kedisiplinan dan tanggung jawab. Setelah menikmati waktu bersama keluarga, para santri kembali melanjutkan perjalanan mereka sebagai pelajar sekaligus santri.

Sambangan, Ruang untuk Menguatkan

Sambangan bukan sekadar pertemuan antara santri dan keluarga. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, kasih sayang, dukungan, dan penguatan.

Bagi orang tua, sambangan menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung perkembangan putra-putri mereka setelah menjalani kehidupan di pesantren. Bagi santri, kehadiran keluarga menjadi sumber semangat untuk kembali menjalani rutinitas dengan lebih baik.

Terlebih bagi santri baru, sambangan pertama setelah 40 hari menjadi pengalaman yang akan selalu dikenang sebagai salah satu bagian penting dari perjalanan awal mereka menjadi santri.

Pesan Kepala SMP Tahfidh Ma’had Yasin

Kepala SMP Tahfidh Ma’had Yasin menyampaikan bahwa kegiatan sambangan menjadi salah satu momentum penting dalam menjaga komunikasi dan kedekatan antara santri dan keluarga.

“Sambangan merupakan kesempatan yang sangat baik bagi santri untuk bertemu dan melepas kerinduan bersama keluarga, terutama bagi santri baru yang telah menjalani kurang lebih 40 hari pertama di pesantren. Kami berharap momen ini dapat memberikan kebahagiaan sekaligus semangat baru bagi para santri.”

Beliau juga berpesan agar waktu sambangan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Kami berharap Bapak dan Ibu dapat memanfaatkan waktu sambangan untuk memberikan perhatian, motivasi, dan doa kepada putra-putrinya. Setelah kembali ke pondok, semoga para santri dapat membawa semangat baru untuk melanjutkan pembelajaran, menghafalkan Al-Qur’an, serta menjalani seluruh kegiatan dengan disiplin dan penuh tanggung jawab.”

Kembali dengan Semangat Baru

Ketika waktu sambangan berakhir, para santri kembali ke lingkungan pondok dengan membawa cerita dan pengalaman baru. Ada cerita tentang perjalanan bersama keluarga, makanan kesukaan, tempat yang dikunjungi, hingga sekadar waktu sederhana yang dihabiskan bersama orang-orang tercinta.

Bagi santri baru, sambangan pertama setelah 40 hari menjadi bukti bahwa perjalanan menjadi santri bukan berarti harus jauh dari kasih sayang keluarga. Justru, jarak dan waktu yang dijalani dapat mengajarkan arti kerinduan, kemandirian, dan penghargaan terhadap kebersamaan.

Sambangan boleh berakhir, tetapi doa dan dukungan keluarga akan selalu menyertai setiap langkah santri.

Selamat kembali ke pondok, para santri. Bawa semangat dari rumah, lanjutkan perjuangan di pesantren, dan terus tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan cinta Al-Qur’an.

SMP Tahfidh Ma’had Yasin — Sekolah Berbasis Pesantren.

Dua Pekan Penuh Cerita dan Inspirasi, SMP Tahfidh Ma’had Yasin Lepas Guru Pertukaran dari SMP Negeri 4 Bae

KUDUS, 8 Agustus 2026 — Setelah hampir dua pekan berbagi pengalaman dan praktik baik dalam proses pembelajaran, program pertukaran guru dan murid Kabupaten Kudus Tahun 2026 di SMP Tahfidh Ma’had Yasin resmi berakhir pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Dua guru dari SMP Negeri 4 Bae, yaitu Erilla Itfiana Prastiwi, S.Pd., guru Bahasa Indonesia, dan Dina Luthfi Junita, S.Pd., guru Matematika, mengikuti rangkaian program pertukaran selama periode 27 Juli–8 Agustus 2026.

Kegiatan penarikan tersebut menjadi momen penuh kehangatan sekaligus refleksi atas berbagai pengalaman yang telah terjalin selama program berlangsung. Kehadiran kedua guru memberikan warna baru dalam aktivitas pembelajaran serta membuka ruang bagi guru dan santri SMP Tahfidh Ma’had Yasin untuk saling belajar dan berbagi pengalaman.

Berbagi Pengalaman, Membangun Kebersamaan

Selama berada di SMP Tahfidh Ma’had Yasin, Bu Erilla dan Bu Dina berinteraksi dengan guru serta santri dalam berbagai aktivitas pembelajaran. Kehadiran keduanya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan perspektif dan pengalaman pembelajaran dari sekolah asal kepada warga SMP Tahfidh Ma’had Yasin.

Tidak hanya berbagi pengetahuan sesuai bidang masing-masing, program ini juga menjadi ruang untuk membangun komunikasi, memperluas jejaring, dan mengenal budaya belajar di lingkungan sekolah berbasis pesantren.

Bagi para santri, kehadiran guru dari sekolah lain memberikan pengalaman baru dalam mengikuti pembelajaran. Sementara bagi para guru, program ini menjadi kesempatan untuk berdiskusi dan bertukar praktik baik dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, bermakna, dan menyenangkan.

Meninggalkan Kesan, Membawa Pengalaman

Penarikan guru pertukaran bukan sekadar berakhirnya sebuah program. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi penanda bahwa berbagai pengalaman dan praktik baik yang telah dibagikan dapat terus dibawa dan dikembangkan di sekolah masing-masing.

Interaksi yang berlangsung selama program juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antarsatuan pendidikan dapat menciptakan ruang belajar yang lebih luas. Perbedaan lingkungan sekolah justru menjadi kesempatan untuk saling melengkapi dan memperkaya pengalaman pendidikan.

Ucapan Terima Kasih Kepala SMP Tahfidh Ma’had Yasin

Kepala SMP Tahfidh Ma’had Yasin, Muhamad Mas’ud, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada SMP Negeri 4 Bae, khususnya kepada Bu Erilla dan Bu Dina, atas partisipasi dan kontribusinya selama mengikuti program pertukaran.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada SMP Negeri 4 Bae, khususnya Ibu Erilla Itfiana Prastiwi dan Ibu Dina Luthfi Junita, yang telah menjadi bagian dari keluarga besar SMP Tahfidh Ma’had Yasin selama program pertukaran guru dan murid berlangsung.”

Beliau berharap pengalaman dan kebersamaan yang telah terjalin dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas di masa mendatang.

“Kehadiran Ibu Erilla dan Ibu Dina memberikan warna dan pengalaman baru bagi guru maupun santri kami. Banyak hal yang dapat kami pelajari dan bagikan bersama. Semoga pengalaman selama berada di SMP Tahfidh Ma’had Yasin dapat memberikan manfaat dan menjadi kenangan yang baik. Kami berharap silaturahmi dan kolaborasi ini tidak berhenti setelah program berakhir, tetapi dapat terus terjalin dan berkembang di masa yang akan datang.”

Sampai Jumpa, Bukan Selamat Tinggal

Berakhirnya program pertukaran menjadi sebuah perpisahan secara fisik, tetapi bukan akhir dari hubungan yang telah terbangun.

Selama hampir dua pekan, berbagai pengalaman, interaksi, dan pembelajaran telah menjadi bagian dari perjalanan bersama. Dari ruang kelas hingga percakapan antarguru, semuanya menjadi pengalaman yang memperkaya proses pendidikan.

Terima kasih, Bu Erilla dan Bu Dina, atas waktu, ilmu, pengalaman, dan kebersamaan yang telah dibagikan. Selamat kembali ke SMP Negeri 4 Bae. Semoga setiap pengalaman dari program ini menjadi bekal untuk terus menghadirkan pembelajaran yang menginspirasi.

Sampai jumpa pada kesempatan berikutnya. Karena kolaborasi yang baik tidak berakhir ketika program selesai.

SMP Tahfidh Ma’had Yasin — Sekolah Berbasis Pesantren.

Bukan Sekadar Latihan, Pramuka SMP Tahfidh Ma’had Yasin Siapkan Kontingen Menuju Lomba Tingkat II Kwarran Bae

KUDUS, 7 Agustus 2026 — Semangat dan kedisiplinan anggota Pramuka SMP Tahfidh Ma’had Yasin kembali terlihat dalam latihan rutin yang dilaksanakan pada Jumat, 7 Agustus 2026, pukul 13.30–15.00 WIB.

Latihan rutin tersebut tidak hanya menjadi agenda pembinaan kepramukaan, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan kontingen Gugus Depan (Gudep) 04.119–04.120 Pangkalan SMP Tahfidh Ma’had Yasin untuk mengikuti Lomba Tingkat II Kwartir Ranting (Kwarran) Bae yang akan dilaksanakan pada 15–16 Agustus 2026 di SMA Negeri 1 Bae.

Memperkuat Pengetahuan Kepramukaan

Dalam latihan kali ini, anggota Pramuka mendapatkan materi PUK (Pengetahuan Umum Kepramukaan). Materi tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi anggota Pramuka untuk memperkuat pemahaman mengenai berbagai pengetahuan dasar dalam dunia kepramukaan.

Melalui pembelajaran PUK, peserta tidak hanya dituntut untuk memahami materi secara teori, tetapi juga diharapkan mampu mengingat dan menerapkannya dalam berbagai kegiatan kepramukaan.

Kegiatan berlangsung dengan suasana aktif dan penuh semangat. Para peserta mengikuti arahan pembina serta berusaha memahami materi yang diberikan sebagai bagian dari proses meningkatkan kemampuan dan kesiapan mereka.

Persiapan Menuju Lomba Tingkat II

Selain memperkuat pengetahuan kepramukaan, latihan kali ini juga diarahkan untuk mempersiapkan kontingen Gudep 04.119–04.120 Pangkalan SMP Tahfidh Ma’had Yasin yang akan berlaga dalam Lomba Tingkat II Kwarran Bae.

Ajang yang akan berlangsung pada 15–16 Agustus 2026 di SMA Negeri 1 Bae tersebut menjadi kesempatan bagi para anggota Pramuka untuk menguji kemampuan, kedisiplinan, kerja sama, dan keterampilan yang telah mereka pelajari selama mengikuti latihan.

Persiapan dilakukan secara bertahap agar setiap anggota kontingen memiliki kesiapan yang optimal. Tidak hanya kemampuan individu, kekompakan regu juga menjadi perhatian penting karena berbagai kegiatan kepramukaan membutuhkan kerja sama dan komunikasi yang baik.

Belajar Disiplin dan Bekerja Sama

Kegiatan Pramuka bukan hanya tentang keterampilan kepramukaan. Di dalamnya terdapat berbagai nilai yang dapat membentuk karakter peserta didik, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama.

Melalui latihan rutin, para anggota Pramuka SMP Tahfidh Ma’had Yasin dibiasakan untuk mengikuti kegiatan secara tertib, menyelesaikan tugas bersama, serta berani menghadapi tantangan.

Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting, baik dalam mengikuti perlombaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Menuju Lomba dengan Semangat dan Sportivitas

Keikutsertaan dalam Lomba Tingkat II bukan semata-mata tentang mengejar kemenangan. Lebih dari itu, perlombaan menjadi ruang bagi para peserta untuk mengukur kemampuan, mendapatkan pengalaman, membangun persahabatan, serta menunjukkan hasil dari proses latihan yang telah dijalani.

Kontingen Gudep 04.119–04.120 Pangkalan SMP Tahfidh Ma’had Yasin diharapkan dapat mengikuti seluruh rangkaian lomba dengan penuh semangat, disiplin, percaya diri, dan menjunjung tinggi sportivitas.

Setiap latihan yang dilakukan menjadi bagian dari perjalanan menuju perlombaan. Dari materi PUK, latihan keterampilan, hingga kerja sama dalam regu, semuanya menjadi bekal untuk tampil sebaik mungkin.

Selamat berlatih dan mempersiapkan diri, Kontingen Gudep 04.119–04.120 Pangkalan SMP Tahfidh Ma’had Yasin!

15–16 Agustus 2026 — Lomba Tingkat II Kwarran Bae
SMA Negeri 1 Bae

Bawa semangat, jaga kekompakan, junjung sportivitas, dan berikan yang terbaik!

SMP Tahfidh Ma’had Yasin — Sekolah Berbasis Pesantren.

Bukan Sekadar Latihan, Pramuka SMP Tahfidh Ma’had Yasin Siapkan Kontingen Menuju Lomba Tingkat II Kwarran Bae

KUDUS, 7 Agustus 2026 — Semangat dan kedisiplinan anggota Pramuka SMP Tahfidh Ma’had Yasin kembali terlihat dalam latihan rutin yang dilaksanakan pada Jumat, 7 Agustus 2026, pukul 13.30–15.00 WIB.

Latihan rutin tersebut tidak hanya menjadi agenda pembinaan kepramukaan, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan kontingen Gugus Depan (Gudep) 04.119–04.120 Pangkalan SMP Tahfidh Ma’had Yasin untuk mengikuti Lomba Tingkat II Kwartir Ranting (Kwarran) Bae yang akan dilaksanakan pada 15–16 Agustus 2026 di SMA Negeri 1 Bae.

Memperkuat Pengetahuan Kepramukaan

Dalam latihan kali ini, anggota Pramuka mendapatkan materi PUK (Pengetahuan Umum Kepramukaan). Materi tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi anggota Pramuka untuk memperkuat pemahaman mengenai berbagai pengetahuan dasar dalam dunia kepramukaan.

Melalui pembelajaran PUK, peserta tidak hanya dituntut untuk memahami materi secara teori, tetapi juga diharapkan mampu mengingat dan menerapkannya dalam berbagai kegiatan kepramukaan.

Kegiatan berlangsung dengan suasana aktif dan penuh semangat. Para peserta mengikuti arahan pembina serta berusaha memahami materi yang diberikan sebagai bagian dari proses meningkatkan kemampuan dan kesiapan mereka.

Persiapan Menuju Lomba Tingkat II

Selain memperkuat pengetahuan kepramukaan, latihan kali ini juga diarahkan untuk mempersiapkan kontingen Gudep 04.119–04.120 Pangkalan SMP Tahfidh Ma’had Yasin yang akan berlaga dalam Lomba Tingkat II Kwarran Bae.

Ajang yang akan berlangsung pada 15–16 Agustus 2026 di SMA Negeri 1 Bae tersebut menjadi kesempatan bagi para anggota Pramuka untuk menguji kemampuan, kedisiplinan, kerja sama, dan keterampilan yang telah mereka pelajari selama mengikuti latihan.

Persiapan dilakukan secara bertahap agar setiap anggota kontingen memiliki kesiapan yang optimal. Tidak hanya kemampuan individu, kekompakan regu juga menjadi perhatian penting karena berbagai kegiatan kepramukaan membutuhkan kerja sama dan komunikasi yang baik.

Belajar Disiplin dan Bekerja Sama

Kegiatan Pramuka bukan hanya tentang keterampilan kepramukaan. Di dalamnya terdapat berbagai nilai yang dapat membentuk karakter peserta didik, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama.

Melalui latihan rutin, para anggota Pramuka SMP Tahfidh Ma’had Yasin dibiasakan untuk mengikuti kegiatan secara tertib, menyelesaikan tugas bersama, serta berani menghadapi tantangan.

Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting, baik dalam mengikuti perlombaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Menuju Lomba dengan Semangat dan Sportivitas

Keikutsertaan dalam Lomba Tingkat II bukan semata-mata tentang mengejar kemenangan. Lebih dari itu, perlombaan menjadi ruang bagi para peserta untuk mengukur kemampuan, mendapatkan pengalaman, membangun persahabatan, serta menunjukkan hasil dari proses latihan yang telah dijalani.

Kontingen Gudep 04.119–04.120 Pangkalan SMP Tahfidh Ma’had Yasin diharapkan dapat mengikuti seluruh rangkaian lomba dengan penuh semangat, disiplin, percaya diri, dan menjunjung tinggi sportivitas.

Setiap latihan yang dilakukan menjadi bagian dari perjalanan menuju perlombaan. Dari materi PUK, latihan keterampilan, hingga kerja sama dalam regu, semuanya menjadi bekal untuk tampil sebaik mungkin.

Selamat berlatih dan mempersiapkan diri, Kontingen Gudep 04.119–04.120 Pangkalan SMP Tahfidh Ma’had Yasin!

15–16 Agustus 2026 — Lomba Tingkat II Kwarran Bae
SMA Negeri 1 Bae

Bawa semangat, jaga kekompakan, junjung sportivitas, dan berikan yang terbaik!

SMP Tahfidh Ma’had Yasin — Sekolah Berbasis Pesantren.

Bukan Sekadar Bertukar Pengalaman, Dua Guru SMP Negeri 4 Bae Hadir di SMP Tahfidh Ma’had Yasin

KUDUS, 27 Juli 2026 — Semangat untuk berbagi pengalaman dan memperluas wawasan pendidikan mempertemukan SMP Tahfidh Ma’had Yasin dengan SMP Negeri 4 Bae dalam program pertukaran guru dan murid di Kabupaten Kudus.

Program yang berlangsung pada 27 Juli hingga 8 Agustus 2026 tersebut menjadi momentum bagi kedua satuan pendidikan untuk saling belajar, berbagi praktik baik, serta membangun pengalaman baru dalam proses pembelajaran.

Dalam program tersebut, SMP Tahfidh Ma’had Yasin menyambut dua guru dari SMP Negeri 4 Bae, yaitu Erilla Itfiana Prastiwi, S.Pd., guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, dan Dina Luthfi Junita, S.Pd., guru mata pelajaran Matematika.

Dua Guru, Dua Keahlian, Satu Semangat Berbagi

Kehadiran Bu Erilla dan Bu Dina menjadi warna tersendiri dalam aktivitas pembelajaran di SMP Tahfidh Ma’had Yasin. Keduanya membawa pengalaman dan perspektif dari lingkungan sekolah asal untuk dibagikan kepada guru dan santri selama mengikuti program pertukaran.

Erilla Itfiana Prastiwi merupakan guru Bahasa Indonesia yang memiliki perhatian pada proses pembelajaran bahasa dan literasi. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan pengalaman baru bagi para santri dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta memahami pembelajaran Bahasa Indonesia dengan cara yang lebih kontekstual dan menyenangkan.

Sementara itu, Dina Luthfi Junita merupakan guru Matematika. Melalui kehadirannya, para santri mendapatkan kesempatan untuk mengenal pendekatan pembelajaran Matematika dari perspektif dan pengalaman yang berbeda.

Pertukaran pengalaman tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi santri, tetapi juga membuka ruang bagi para guru untuk saling mengamati, berdiskusi, dan berbagi praktik baik dalam melaksanakan pembelajaran.

Membuka Ruang Belajar yang Lebih Luas

Program pertukaran guru dan murid menjadi salah satu bentuk nyata bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Interaksi dengan guru dan peserta didik dari lingkungan pendidikan yang berbeda dapat membuka wawasan serta memperkaya pengalaman belajar.

Bagi SMP Tahfidh Ma’had Yasin, kehadiran guru dari SMP Negeri 4 Bae menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring kerja sama sekaligus membangun budaya berbagi praktik baik.

Melalui program ini, guru dapat saling bertukar pengalaman mengenai strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, karakteristik peserta didik, hingga berbagai pendekatan yang dapat diterapkan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna.

Di sisi lain, para murid juga mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan lingkungan pendidikan yang berbeda. Mereka tidak hanya belajar mengenai materi pelajaran, tetapi juga belajar tentang komunikasi, keberagaman, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi.

Membangun Kolaborasi Pendidikan di Kabupaten Kudus

Pelaksanaan program pertukaran guru dan murid pada 27 Juli–8 Agustus 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antarsatuan pendidikan di Kabupaten Kudus.

Perbedaan karakteristik sekolah bukan menjadi batas untuk saling belajar. Justru melalui perjumpaan dan kolaborasi, setiap sekolah dapat berbagi kelebihan, pengalaman, serta praktik baik yang dapat memberikan manfaat bagi perkembangan pendidikan.

Kehadiran Bu Erilla Itfiana Prastiwi dan Bu Dina Luthfi Junita di SMP Tahfidh Ma’had Yasin diharapkan dapat meninggalkan pengalaman positif, baik bagi para santri maupun dewan guru.

Lebih dari sekadar program pertukaran, kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun hubungan, memperluas perspektif, dan menumbuhkan semangat bahwa pendidikan akan semakin kuat ketika sekolah mau saling belajar dan berbagi.

Selamat Datang di SMP Tahfidh Ma’had Yasin

SMP Tahfidh Ma’had Yasin menyambut hangat kehadiran Bu Erilla Itfiana Prastiwi dan Bu Dina Luthfi Junita dalam program pertukaran guru dan murid.

Semoga selama berada di SMP Tahfidh Ma’had Yasin, terjalin pengalaman yang berkesan, kolaborasi yang positif, serta berbagai praktik baik yang dapat terus dikembangkan setelah program berakhir.

Selamat datang, Bu Erilla dan Bu Dina. Mari bersama-sama menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas, bermakna, dan menginspirasi bagi generasi muda.

SMP Tahfidh Ma’had Yasin — Sekolah Berbasis Pesantren.

Menembus Batas Sekolah, Dua Guru SMP Tahfidh Ma’had Yasin Ikuti Program Pertukaran Guru dan Murid Kabupaten Kudus 2026

KUDUS, 20 Juli 2026 — Semangat untuk terus belajar, berbagi, dan memperluas pengalaman pendidikan membawa dua guru SMP Tahfidh Ma’had Yasin mengikuti Program Pertukaran Guru dan Murid Kabupaten Kudus Tahun 2026. Keduanya adalah Nuroini Najmiya Nafisa, S.Pd., M.Pd., Gr., guru Bahasa Indonesia, dan Muchammad Imron, S.Pd., M.Pd., Gr., guru Matematika.

Dalam program tersebut, kedua guru SMP Tahfidh Ma’had Yasin ditempatkan di SMP Negeri 4 Kudus sebagai bagian dari pelaksanaan pertukaran guru dan murid antarsatuan pendidikan di Kabupaten Kudus.

Sebelum menjalankan program, keduanya mengikuti acara pelepasan dan pembekalan peserta Program Pertukaran Guru dan Murid Kabupaten Kudus Tahun 2026 yang dilaksanakan pada Senin, 20 Juli 2026, di SMP Negeri 2 Jati.

Dilepas dan Dibekali untuk Berbagi Praktik Baik

Acara pelepasan dan pembekalan tersebut menjadi momentum penting bagi para peserta sebelum menjalankan tugas dalam program pertukaran. Kegiatan tersebut dihadiri dan dibuka oleh Bupati Kudus, Dr. Ars. Sam’ani Intakoris, S.T., M.T.

Kehadiran Bupati Kudus memberikan semangat sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi dan pertukaran pengalaman dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Kudus.

Melalui program ini, para guru mendapatkan kesempatan untuk mengenal lingkungan pendidikan yang berbeda, bertukar pengalaman, serta berbagi praktik baik dalam proses pembelajaran. Sementara itu, para murid juga memperoleh pengalaman belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekolah yang berbeda dari kesehariannya.

Dua Guru, Dua Bidang Keahlian

Dalam program pertukaran tersebut, Nuroini Najmiya Nafisa, S.Pd., M.Pd., Gr. mengikuti program sebagai guru Bahasa Indonesia. Kompetensinya di bidang Bahasa Indonesia menjadi bekal untuk berbagi pengalaman pembelajaran literasi, komunikasi, dan keterampilan berbahasa dengan peserta didik.

Sementara itu, Muchammad Imron, S.Pd., M.Pd., Gr. mengikuti program sebagai guru Matematika. Melalui bidang keahliannya, ia berkesempatan berbagi pengalaman dalam menghadirkan pembelajaran Matematika yang aktif, kontekstual, dan mendorong peserta didik untuk berpikir kritis.

Keduanya tidak hanya membawa kompetensi akademik, tetapi juga membawa semangat dan pengalaman dari SMP Tahfidh Ma’had Yasin untuk dibagikan di lingkungan sekolah tempat mereka menjalankan program pertukaran.

Belajar di Lingkungan Baru

Penempatan kedua guru di SMP Negeri 4 Kudus memberikan kesempatan untuk mengenal lingkungan pembelajaran yang berbeda sekaligus memperluas pengalaman profesional sebagai pendidik.

Program pertukaran menjadi ruang bagi guru untuk saling berbagi pengalaman, mendiskusikan strategi pembelajaran, mengenal karakteristik peserta didik, serta menemukan berbagai praktik baik yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.

Bagi SMP Tahfidh Ma’had Yasin, keikutsertaan dua guru tersebut juga menjadi bentuk komitmen untuk terus mengembangkan kompetensi pendidik dan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Pendidikan Tumbuh melalui Kolaborasi

Program Pertukaran Guru dan Murid Kabupaten Kudus Tahun 2026 menjadi salah satu langkah untuk memperkuat budaya kolaborasi antarsatuan pendidikan.

Pertukaran bukan sekadar perpindahan tempat mengajar atau belajar. Lebih dari itu, program ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal, saling belajar, dan saling berbagi pengalaman.

Guru mendapatkan perspektif baru. Murid memperoleh pengalaman berbeda. Sekolah pun memiliki kesempatan untuk memperluas jejaring dan mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih beragam.

Dengan semangat tersebut, keikutsertaan Nuroini Najmiya Nafisa dan Muchammad Imron diharapkan dapat memberikan pengalaman berharga yang nantinya turut memperkaya proses pembelajaran di SMP Tahfidh Ma’had Yasin.

Membawa Semangat untuk Terus Belajar

Keikutsertaan kedua guru dalam Program Pertukaran Guru dan Murid Kabupaten Kudus Tahun 2026 diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman baru bagi mereka, tetapi juga membawa dampak positif bagi seluruh warga sekolah melalui berbagi pengetahuan dan praktik baik setelah program selesai.

Keikutsertaan tersebut menjadi pengingat bahwa menjadi pendidik berarti terus belajar. Setiap perjumpaan dengan lingkungan baru menghadirkan kesempatan untuk melihat pendidikan dari perspektif yang berbeda.

Selamat mengikuti Program Pertukaran Guru dan Murid Kabupaten Kudus Tahun 2026 kepada Nuroini Najmiya Nafisa, S.Pd., M.Pd., Gr. dan Muchammad Imron, S.Pd., M.Pd., Gr. Semoga menjadi pengalaman yang bermakna, memperluas wawasan, dan membawa praktik baik untuk kemajuan pembelajaran di SMP Tahfidh Ma’had Yasin.

SMP Tahfidh Ma’had Yasin — Sekolah Berbasis Pesantren.

Bukan Sekadar Masa Pengenalan, MPLS Ramah SMP Tahfidh Ma’had Yasin Jadi Awal Cerita Baru Santri dari Berbagai Daerah

KUDUS, 11 Juli 2026 — Hari-hari pertama menjadi santri menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi peserta didik baru SMP Tahfidh Ma’had Yasin. Selama enam hari, 6–11 Juli 2026, para santri baru mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 dengan penuh semangat, antusiasme, dan kebersamaan.

MPLS Ramah menjadi bagian penting dalam membantu santri baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan pesantren. Bukan hanya mengenalkan fasilitas dan tata tertib, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para santri untuk mengenal guru, murobbi, teman baru, budaya sekolah, serta berbagai aktivitas pembelajaran dan kehidupan di lingkungan pesantren.

Memulai Langkah di Lingkungan Baru

Memasuki lingkungan pendidikan yang baru tentu menghadirkan pengalaman yang beragam. Ada rasa penasaran, semangat, sekaligus kerinduan kepada keluarga yang muncul ketika santri mulai menjalani kehidupan di pesantren.

Melalui MPLS Ramah, SMP Tahfidh Ma’had Yasin berupaya menciptakan suasana awal yang aman, nyaman, menyenangkan, dan mendukung proses adaptasi santri.

Berbagai kegiatan dirancang untuk membantu santri mengenal lingkungan sekolah dan pesantren secara bertahap. Para santri juga mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman baru yang berasal dari berbagai daerah.

Keberagaman asal daerah tersebut menjadi warna tersendiri dalam kehidupan santri. Mereka datang dengan latar belakang, pengalaman, dan budaya yang berbeda, tetapi dipertemukan dalam satu lingkungan untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan diri.

Dari Samarinda hingga Temanggung

Salah satu santri baru yang mengikuti MPLS Ramah adalah Yumna Fariha, santri putri yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Jauh dari daerah asal dan keluarga menjadi pengalaman baru yang harus dijalani.

Bagi Yumna, berada di lingkungan baru menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman sekaligus mengenal lebih banyak teman.

“Saya senang bisa mengikuti MPLS karena bisa mengenal lingkungan sekolah dan teman-teman baru. Awalnya tentu ada rasa canggung karena jauh dari rumah, tetapi setelah mengikuti kegiatan bersama teman-teman, saya mulai merasa lebih nyaman dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan di sini.”

Sementara itu, pengalaman serupa juga dirasakan Muhammad Averrous Attira Maulana, santri putra baru asal Temanggung, Jawa Tengah.

Menurutnya, MPLS menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat lingkungan SMP Tahfidh Ma’had Yasin sekaligus membangun pertemanan dengan santri baru lainnya.

“MPLS membuat saya lebih mengenal sekolah, guru, dan teman-teman baru. Saya berharap selama belajar di sini bisa mendapatkan banyak pengalaman, menjadi lebih mandiri, dan bisa mengikuti pembelajaran dengan baik.”

Kehadiran santri dari berbagai daerah seperti Samarinda dan Temanggung menunjukkan bahwa SMP Tahfidh Ma’had Yasin menjadi ruang perjumpaan bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk menuntut ilmu dan mengembangkan potensi diri.

MPLS Ramah, Awal yang Menyenangkan

Konsep MPLS Ramah memberikan penekanan pada terciptanya lingkungan pengenalan yang positif dan menyenangkan bagi peserta didik baru.

Para santri tidak hanya dikenalkan pada lingkungan sekolah, tetapi juga diajak memahami berbagai kebiasaan dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan di sekolah dan pesantren.

Proses pengenalan dilakukan dengan pendekatan yang ramah agar santri dapat beradaptasi secara bertahap. Mereka belajar mengenal aturan, membangun kedisiplinan, memahami tanggung jawab, sekaligus menjalin hubungan yang baik dengan guru, murobbi, dan teman sebaya.

Dengan demikian, MPLS tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial di awal tahun ajaran, tetapi menjadi fondasi awal bagi terbentuknya pengalaman belajar yang positif.

Pesan Kepala SMP Tahfidh Ma’had Yasin

Kepala SMP Tahfidh Ma’had Yasin, Muhamad Mas’ud, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa MPLS Ramah diharapkan dapat menjadi pintu masuk yang baik bagi santri dalam mengenal lingkungan pendidikan yang baru.

“Selamat datang kepada seluruh santri baru Tahun Ajaran 2026/2027. MPLS Ramah ini kami harapkan menjadi awal yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal lingkungan sekolah, guru, teman, dan kehidupan pesantren. Jangan takut untuk beradaptasi dan jangan ragu untuk belajar hal-hal baru.”

Ia juga menekankan pentingnya membangun rasa percaya diri dan kemandirian sejak awal santri berada di lingkungan sekolah dan pesantren.

“Setiap santri memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Nikmati prosesnya, jalani dengan disiplin dan penuh keikhlasan, serta jangan takut untuk bertanya dan mencoba. Semoga selama belajar di SMP Tahfidh Ma’had Yasin, anak-anak tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang berakhlak, mandiri, dan cinta Al-Qur’an.”

Enam Hari yang Menjadi Awal Perjalanan

Enam hari pelaksanaan MPLS Ramah, 6–11 Juli 2026, menjadi bagian penting dari perjalanan awal santri baru SMP Tahfidh Ma’had Yasin Tahun Ajaran 2026/2027.

Dari pertemuan pertama yang mungkin masih dipenuhi rasa canggung, perlahan tumbuh interaksi, kebersamaan, dan rasa percaya diri. Teman yang awalnya tidak dikenal mulai menjadi bagian dari keseharian. Lingkungan yang semula terasa asing perlahan menjadi tempat untuk belajar dan bertumbuh.

Bagi santri yang datang dari jauh, seperti Yumna Fariha dari Samarinda, pengalaman tersebut menjadi langkah awal untuk belajar hidup mandiri di lingkungan baru. Bagi Muhammad Averrous Attira Maulana dari Temanggung, MPLS menjadi pintu untuk mengenal lebih dekat dunia sekolah dan pesantren yang akan menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya.

Pada akhirnya, MPLS Ramah bukan hanya tentang mengenal sekolah. MPLS adalah tentang memulai sebuah perjalanan.

Perjalanan untuk mengenal diri, menemukan teman, belajar mandiri, menuntut ilmu, menghafalkan Al-Qur’an, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang berilmu serta berakhlak.

Selamat datang dan selamat bertumbuh, santri baru SMP Tahfidh Ma’had Yasin Tahun Ajaran 2026/2027. Perjalanan kalian baru saja dimulai.

SMP Tahfidh Ma’had Yasin — Sekolah Berbasis Pesantren.

1 2 3 10